"Ran, hujan!"
"whoa! And I love it, by the way"
"Heiii! Kalau nanti demam, bagaimana?"
Laki-laki itu tak habis pikir dengan gadis yang sekarang ini sedang asyik main hujan-hujanan di trotoar yang mereka lewati untuk mencapai halte. Ah, bukan hanya hujan, 10 menit yang lalu Maro dimintanya untuk menemaninya pulang naik bis! Maro pun tak kuasa menolaknya.
"hujan meresonansi pikiranku. Aku bebas tertawa, imagine some good things. Nggak usah mikirin hal-hal mengganggu... ha-ha-ha," sesampainya di halte MIS Randia langsung membuka resleting tasnya, mengambil handuk kecil yang kerap kali ia bawa, kemudian mengeringkan kepalanya yang sedikit basah menggunakan handuk itu. Selesai dengan urusannya, Randia menyodorkan handuk berwarna baby blue itu ke arah Maro, "take it."
Disambarnya handuk yang Randia tawarkan. Cepat, Maro mengeringkan rambutnya beberapa detik. Lalu dikembalikannya pada Randia. "Hal-hal mengganggu apa, sih? Masih kelas 2 aja udah ribet banget urusannya. Kayaknya pas aku seumur kamu, beban sekolah nggak banyak deh."
Randia tersenyum kecil menanggapi sanggahan Maro. Sahabatnya itu menatapnya bingung, terlihat dari kedua alisnya yang saling beradu. "please, Ran. Menyukai hujan memang bukan sebuah kesalahan-- apalagi dosa. Hanya saja, kamu harus pikirkan apa yang terjadi sepanjutnya."
"apaan sih, Ro? Aku bakalan mati apa, kalau main ujan-ujanan begini?"
"Randia! Omongan kamu tuh ya--!"
Randia terdiam. Selang dua menit, perlahan tangannya menggenggam tangan Maro. Laki-laki itu masih betah mengunci bibirnya, Randia yakin Maro kesal sekali mendengar ucapan Randia yang tidak pantas tadi.
Maro bisa kan untuk tidak bertingkah laku secara berlebihan dalam hal menjaga Randia? Ia tahu Maro peduli, tapi terkadang Randia tidak menyukai caranya.
Tangan Randia masih terpaut erat di sela-sela jemari kokoh Maro hingga bis arah rumahnya datang. Mereka mendapat tempat duduk di barisan 3 terhitung dari belakang. Posisi Maro di dekat jendela, dan Randia tepat ada di sebelahnya. Randia hendak melepas pautan tangannya tapi Maro malah semakin mengeratkan pegangan itu.
Maro menatap jam yang dikenakan olehnya. Awal November, terlihat dari digital yang Maro lihat di jamnya. Bulan ini akan penuh hujan, Maro sangat yakin dengan hal itu. Jakarta pasti akan banjir, di manapun.
"Ro..."
"Hmm,"
"aku hanya ingin melepas stress sejenak. Swear. Bukannya ingin sakit..."
"Hmm."
Maro masih betah memandangi jalan, terlihat dari jendela besar di sisi kanannya. Wangi hujan terhirup, perasaannya menjadi damai... Yeah, ia lebih memilih menikmati hujan dengan cara seperti ini, hanya menatapnya. Lain dengan Randia yang doyan banget basah-basahan.
Ia tak tahu di menit ke berapa ketika Randia menyenderkan kepalanya di bahu kiri Maro. Ah, damn it! Jalanan mendadak macet. Pasti karena hujan...
Mendadak, Maro merasa bahu kirinya basah akan sesuatu. Ia menoleh dan justru ia melihat apa yang paling dibencinya...
... yaitu melihat gadis ini menangis.
"Ran?"
"Ro..."
"are you okay?"
Randia menggeleng, tetap menangis tanpa suara. Ia membalas genggaman Maro lebih erat.
"I'm not... I'm really not okay. Aku kacau, aku... hampa,"
"just tell me, Ran. Share it to me, alrite? Like we always do,"
Ada jeda yang cukup panjang di antara mereka berdua. Dan sejurus kemudian, Randia mengeluarkannya perlahan, seperti kesakitan membawa sesuatu yang amat berat.
"Nau is back. I met him on dad's reunion party last night."
Maro merasa bom waktu sudah meledak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar