"you looks so great, honey."
Dad merangkul Randia hangat. Yang dipuji senyum-senyum saja.
Randia melirik Alexandre Christie miliknya. Pukul setengah 7 malam. Kini ia dan Dad sudah sampai di Balai Kartini untuk menghadiri acara gathering teman Dad ketika SMA dulu. Yeah, reuni.
By the way, Randia emang terlihat memukau malam ini. padahal, ia hanya dandan seadanya. Ya... dia liat sikon juga lah, ini kan reuni teman-teman Dad yang notabene udah berumur. Ia hanya mengenakan Floral Dress nya Zara, dan heels dari Marie Claire (sebenarnya Randia sadar, merk yang ia kenakan sangat commoners banget. Tapi Randia hanya tidak ingin terlihat berlebihan saja. Ia ogah mengenakan McCartneey dan Jimmy Choo). Rambutnya yang panjang ia ikat rapi.
"kamu nggak bakalan mati kebosanan, kok. Teman-teman Dad juga bawa anak-anaknya ke sini. banyak kok yang seumuran sama kamu. So, don't be bored here." Dad tersenyum menghibur kearah Randia. Gadisnya itu tersenyum lebar.
"nggak masalah kok, Dad. Randia memang mau nemenin Dad, kok. kasihan kan, Dad sendirian ke sini. Mom nggak bisa nemenin karena diundang dalam acara peluncuran heels terbarunya Prada di Plaza Indonesia. Randia nggak tega kalo Dad sendirian, hihihi." Randia merangkul pinggang Dad sambil tertawa kecil.
Sesampainya di dalam, Randia memisahkan diri dari Dad. Biarlah Dad melepas rindu dengan teman-teman sejawatnya. Lagipula Randia bisa ketawa garing kalo dengerin celotehan para orang tua itu. She prefer to find something to eat. Perutnya mulai berdemo minta diisi.
Ini dia, gerai pasta. Tersedia berbagai macam pasta mulai dari spagetti, fettucine, macaroni, lasagna, dan lain-lain. Dan pilihan jatuh kepada fettucine cheese mushroom with smooked beef. Hmm.. yummy.
Makanan di piring Randia telah habis. Ah, untungnya Randia tidak menganut pola diet. Gimana mau diet? Badannya aja kurus begini. Malahan, Randia butuh penggemukkan badan. So, makanan tadi sudah pas sekali untuk menjalani jadwal "penggemukkan" tubuhnya.
"Ran, sini, ikut Dad." tiba-tiba Dad berada di sampingnya. Kedua alis Randia beradu, bingung.
"mau ngapain, Dad?" Tanya gadis itu.
"Dad mau kenalin kamu sama temen Dad. ayo!"
Randia toh tidak bisa menolak. Ia ikut kemana Dad membawanya pergi. Ternyata, ke sebuah kerumunan teman-teman Dad. Dan... nggak ada satupun yang Randia kenal.
"ini anak gadisku. Randia. Ran, kenalin ini sahabat-sahabat Dad waktu SMA dulu. ini Om Darwin, ini Om Roy, dan ini Om Hadi." Dad mengenalkan sahabat-sahabatnya kepada Randia. Ia tersenyum lebar, lalu menyambut uluran-uluran tangan itu.
"cantik sekali anakmu, Putra. mirip sekali ya dengan istrimu," Roy Suhardja tanpa basa-basi melontarkan pujian untuk Randia. cewek itu hanya tertawa kecil. sedikit malu dengan pujian dari Om Roy. Ditambah lagi, nggak cuma Om Roy saja yang memuji, tapi Darwin Fathillah dan Hadi Triono juga memuji kecantikannya.
"Putra! Apa kabar? Sudah lama sekali, ya,"
Tiba-tiba sebuah suara muncul. Randia ikut menoleh kearah suara itu. Begitu pula dengan ketiga teman Dad, dan juga Dad yang merasa dipanggil oleh seseorang.
"ya Tuhan, Toni! Bagaimana kabarmu? Ah, kemarin aku liat kamu berpose untuk majalah Horges. Usahamu sepertinya semakin meroket, ya? Aku turut senang mendengarnya," ujar Dad. Kedua bola mata Randia berputar. yayaya... talk about business.
Wait. Randia juga sempat melihat majalah Horges milik Dad. Toni? Toni Widjajantoe...?
Widjajantoe...
"Alhamdulillah, Putra. Keadaanmu sendiri, bagaimana? Oh ya, Daisy kemana?"
"ah, aku juga baik. Daisy berhalangan untuk hadir, dan Randia yang menggantikan tugasnya untuk menemaniku."
Toni melirik seorang gadis yang ada diantara mereka. "kamu pasti Randia, eh?" tanya Toni, ragu. Randia menganggukkan kepalanya pelan, dan melempar senyum. "Putra, dia benar-benar mirip Daisy!"
"kamu sendirian, Put?"
"Herlin lagi di Frisco--San Fransisco--untuk melepas rindu dengan Gandhi. Sekarang Gandhi kerja di sana, mencoba mengikuti jejakku untuk membangun perusahaan. Tapi bedanya Gandhi bergerak di bidang tekstil. Dan kini ia telah menikah dengan Talitha Bhayangkarsoe. Aku telah menjadi kakek sekarang..." Tutur Toni dengan tawa renyah di potongan kalimatnya. "...dan aku kemari bersama anakku. Ah, itu dia," Pandangan Toni tertumpu pada seseorang yang tingginya sekitar 180 sentimeter. Seorang laki-laki.
"Nadhir, kemari, nak." seru Toni kepada laki-laki itu. Sosok yang awalnya membelakangi mereka pun memutar tubuhnya. Seketika, tubuh Randia menegang.
Itu... Apa yang Om Toni bilang? Nadhir? Dia bukan-- Astaga!
"ya, Ayah."
Laki-laki itu menghampiri mereka dan kemudian mendadak tegang, seperti apa yang Randia rasakan sekarang. Matanya menatap Randia tanpa berkedip--sedikitpun ia tak berkedip. Perlahan, Randia menggenggam dress nya, nggak peduli apakah akan kusut karena perbuatannya itu atau tidak. Pandangan Randia hanya tertuju kepada ujung sepatunya.
Rasanya ia ingin berteriak.
Naufal Nadhir Widjajantoe. Pantas saja Randia merasa familiar dengan nama keluarga Om Toni. ternyata... Nau anaknya Om Toni? Mata Randia terasa perih. Ia dapat merasakan otaknya kembali memutar memori-memori lamanya.
Memorinya dulu bersama Nau.
"Hai, Ran," sapa Nau kikuk. Ia tidak bisa mengontrol emosinya kini.
Toni dan Putra saling pandang. "oh, ternyata kalian sudah saling kenal?" Putra agak tercengang, tak menyangka kalau anaknya dan anak Toni sudah kenal sebelumnya. Padahal, dirinya dan Toni sudah tidak bertemu belasan tahun lamanya. Jadi... darimana mereka bisa saling kenal?
"Randia temanku sejak SMP, Om." jawab Nau, masih dengan nada yang kaku. Ia sendiri tidak pernah menyangka kalau ia bisa bertemu Randia-nya di sini. Ah, salah. Kini gadis cantik itu bukan lagi Randia-nya.
Nau tidak menyangka sedikitpun. Ketika ia pindah ke Frisco mengikuti Mas Gandhi dan Mbak Talitha, ia pikir ia tidak akan bertemu lagi dengan Randia. Sejujurnya, ia sendiri ogah balik lagi ke Jakarta. Ia enggan menemui kenangan-kenangan di sini. Tapi di sisi lain ia tidak tega kalau Bunda sendirian di rumah, karena Ayah sering ke luar kota bahkan ke luar negeri demi bisnisnya. Ia juga sebenarnya tidak ingin jadi benalu di keluarga kecilnya Mas Gandhi, walaupun ia sendiri tahu Mas Gandhi dan Mbak Talitha tidak akan pernah mengecapnya seperti itu.
Sunshine... kamu terlihat lebih kuat ya, sekarang. Tapi kumohon, jangan hindari safir itu. Angkat kepalamu, Ran.
"benarkah begitu, Randia?" Putra bertanya kepada putri sulungnya. Mau tak mau, Randia mengangkat kepalanya dan tersenyum masam kepada Dad, "iya, Nau... temanku. Waktu di Nusa Bangsa Indonesia." Randia juga melempar senyuman kepada Om Toni, berusaha menutupi keadaan dan menunjukkan kalau ia baik-baik saja.
"ini bukan saja reuni bagi kita, Putra. Sepertinya Nadhir--Nau-- dan Randia juga reunian," Toni berkata dengan ringan. Dad pun tertawa renyah.
Tapi, Nau dan juga Randia tidak dapat enjoy seperti ayah mereka. Ketegangan itu belum hilang.
Randia pamit untuk mencicipi dessert. Alasan sebenarnya adalah ia ingin melarikan diri sesegera mungkin dari sana.
--- | ---
Randia menghindarinya.
Nau sangat memaklumi hal itu. Randia masih benci kepadanya. Nau menyesap raspberry juice di tangannya. Masa lalu memang menyakitkan.
Andai Randia bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Andai Randia bisa tahu apa yang berkecamuk di dada Nau selama 3 tahun ini