Minggu, 22 Mei 2011

Confusion

Sudah waktunya pulang. Langit terlihat mendung sekali. Tapi Randia suka dengan suasana ini, maka dari itu Randia menahan diri untuk tidak langsung pulang. Sepertinya duduk di kantin akan terasa nyaman.

Randia membereskan buku-buku nya, lalu beranjak ke luar kelas. Sekolah masih ramai, siswa-siswi berkumpul di lobby untuk menunggu mobil yang menjemputnya masing-masing. Dan tak lama, hujan mulai turun rintik-rintik. Randia tersenyum kecil, lalu mengadahkan kepalanya ke arah langit.

Hujan... kamu nangis karena untuk menghiburku, kan?

"hey, mademoissle"

Ia yakin sekali kalau itu suara Maro. Randia pun menyikut perut Maro pelan, "bisa nggak sih berhenti kagetin aku dari belakang?" Randia memutar tubuhnya, menghadap Maro. Rambut laki-laki itu terlihat sedikit basah, sepertinya ia sempat terkena rintikan hujan.

"kemana ya yang enak kalau lagi hujan begini?" Maro mendekap kepala Randia, lalu membelainya lembut. Hidung Randia lagi-lagi mencium wangi parfum Maro, Calvin Klein MAN. Wanginya sangat memabukkan, membuat Randia selalu ingin tertidur bila menciumnya.

"aku... aku lagi mau ke kantin, Ro. Mau temani aku? Mega, Jasmin, dan Aza entah kemana... sepertinya mereka sibuk banget, deh. Aku telfon nggak bisa. Trus Deandra juga sibuk cheers. Mau yaaa temani aku?" Randia selalu seperti ini, bersikap manja terhadap Maro. Sahabatnya itu pun mengangguk pelan, bibirnya manyun. Sedangkan Randia tertawa kecil menanggapi reaksi Maro yang pura-pura ngambek itu.

Sesampainya di kantin, Randia segera menuju counter yang menjual pasta. "eh, Randia. Kamu mau pesan apa?" Joko, anak Pak Toto yang menjual pasta di kantin sekolahnya, menyapa Randia. Joko sudah lulus SMA, dan sekarang membantu ayahnya untuk berjualan makanan di kantin sekolah ini. Randia berteman cukup baik dengan Joko, karena Joko juga sering menemaninya ngobrol bila Randia sering ke kantin sendirian.

"Jo... kayaknya zoupa soup enak deh, ya. Hmm... minumnya hot lemon tea, ya."
"untuk Maro? nggak kamu pesanin, nih?"

Randia menoleh ke arah sahabatnya itu. Maro tengah duduk di meja dekat jendela besar, menopang dagu nya dengan tangan kanan dan kedua kupingnya pun tengah sibuk dengan headset yang telah tersambung dengan iPod.

"zoupa soup juga deh, biar bisa angetin badan. kayaknya dia lagi kurang enak badan. Tapi minumnya hot chocolate aja, biar lebih bertenaga"
"well, oke. 10 menit lagi meluncur ke meja kalian."
"hmm... okay"


Angin bertiup cukup kencang, begitu pula dengan rintikan hujan yang semakin deras. Rambut Randia berkibas diterpa angin. Ia sedikit kewalahan mengatur rambutnya, apalagi ia lupa bawa karet rambut. Dan ketika mendekat kearah Maro, ternyata Maro sedang tertawa geli ke arahnya.

"kok ngetawain aku, sih!" bibir Randia manyun, kesal sekaligus malu. Ia duduk di hadapan Maro dan melipat kedua tangannya diatas meja. Sedangkan Maro masih saja tertawa.

"ini, aku punya sapu tangan. Masih bersih, kok. Sebentar, ya." Maro berjalan ke belakang Randia. menata rambut gadis itu dengan rapi, lalu mengikatnya dengan sapu tangan nya yang berwarna biru. "nah, udah rapi, nih."

Ran... you're really beautiful for me. Coba aja aku bisa peluk kamu terus, Ran.

Tidak lama kemudian, Joko datang bersama pesanan Randia. Kening Maro sedikit mengerut, "Jo, nggak salah nih Randia pesan sebanyak ini? Dia dalam proses penggemukan badan atau gimana, nih?" Sesungguhnya Maro tidak benar-benar mengajukan pertanyaan itu pada Joko saja, tapi juga pada Randia yang Maro yakin juga turut mendengarnya.

Joko tertawa kecil. Ia pun menyajikan makanan dan minuman tersebut. "Randia pesan ini juga buat lo. Katanya lo lagi nggak enak badan gitu, butuh asupan yang hangat. Iya kan, Ran?" Joko melirik ke arah Randia.

"iya, Ro. Kamu tuh suntuk banget keliatannya. Ayo, kamu makan, ya. By the way, makasih, Joko." kata Randia lembut. Joko kembali ke counternya. Dan Randia menarik Maro ke tempat asalnya, "sekarang kamu makan ya, jangan sampai nggak makan. Aku nggak mau kamu sakit."

Maro tersenyum kecil. Rasanya perasaan ini semakin besar saja.

***

"kamu lagi suka sama siapa, Ro? Jujur deh sama aku."

Entah kenapa Randia merasa ia harus menanyakan ini pada Maro. Setelah mendengar cerita Aza dan Mega kemarin lewat chat messenger, Randia sedikit kesal dengan Maro. Kenapa Maro nggak cerita kalau dia lagi suka sama cewek? Randia sahabatnya, kan?

"hah?!" Maro sedikit tersedak. Dirogohnya mineral water yang selalu ia bawa setiap saat, kemudian meminumnya. Pertanyaan Randia sukses membuat pipinya merona merah dan.... salah tingkah sampai-sampai tersedak seperti ini. "kamu ngomong apa, sih?"

"jujur aja, deh. Kamu lagi suka sama siapa? Dari dulu kamu nggak pernah ngomongin cewek deh, kayaknya. Eh, pernah sih, tapi ya cuma ngomongin doang, bukan cerita kalo kamu suka atau nggak." Randia menyendokkan soupnya ke dalam mulut.

"aku lagi nggak suka sama siapa-siapa kok, jangan ngaco." Maro berusaha stay cool, dia melahap soup nya perlahan. Uh... andai aku bisa ngomong ke kamu, Ran.

"aku nggak suka ah, kalau kamu bohong sama aku."

Maro mematung. Ditatapnya Randia yang sedang menundukkan kepalanya.

"nanti aku cerita, deh. Tapi nggak sekarang, ya. Lagipula... nggak penting, ah." setelah Maro mengucapkan itu, mereka berdua terdiam. Sampai kedua soup mereka habis.

"maaf, harusnya aku nggak ganggu privasi kamu. Maaf ya, Maro. Aku janji, aku nggak akan mendesak kamu untuk cerita sampai kamu yang punya inisiatif sendiri untuk bilang ke aku."

"nggak usah minta maaf, Ran. it doesn't matter if you want me to share my story to you. Kamu kan, sahabatku." Maro menarik napas dalam. Kata 'sahabat' yang tadi ia tekankan terasa ngilu. "udah sewajarnya kamu kesal kalo aku nggak cerita apa-apa."

Tiba-tiba, Maro teringat dengan perbincangannya dengan beberapa teman dekat cowoknya ketika di kelas. Ia, Perro, Kahil, dan Rei membicarakan tentang pertunjukkan balet yang akan diadakan di GKJ. Tim balet dari Mearrow International School yang mengadakannya. Pacar Kahlil, Dee, terpilih di tim balet tersebut. Kahlil pun mengajak Perro, Rei, dan Kahlil untuk ikut menonton. Maro punya ide untuk mengajak Randia. Karena Maro sangat tahu kalau Randia suka dengan balet.

"mau nonton balet? Sabtu ini, di GKJ. Kahlil ngajak aku. Dan aku rasa kamu juga bakalan suka. Dee satu-satunya anak kelas 11 yang ikut, loh. yang lain kan anak dari kelas 12."

Randia mengangkat alisnya, "aku tahu, kok. Kemarin Dee kasih aku tiket, tapi aku tolak. Soalnya... Sabtu ini aku udah janji sama Dad untuk menemaninya ke acara sahabatnya. Aku nggak enak kalau aku batalkan, soalnya Dad semangat banget mau kenalkan aku ke teman-temannya."

"mau dijodohkan?"
"no way! aku bukan siti nurbaya!"

Maro mengulum senyumnya. Lagi-lagi, nggak bisa jalan sama Randia. Padahal, sudah lama mereka nggak pergi keluar bareng. "ya sudah, nanti aku nonton sama mereka aja."

Feelingnya berubah jadi buruk. Maro resah. Ada sesuatu yang mengganggunya, entah apa itu.