Rabu, 02 Maret 2011

Who is She, by the way?

Sabtu sore ini, Mega pergi menuju The Koffee, kafe langganannya bersama Jasmine, Aza, dan Randia. Tapi kali ini, Mega hanya pergi bersama Aza karena Jasmine dan Randia sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Kalau Jasmine sibuk mengurusi pensi sekolah yang akan dilaksanakan 2 bulan lagi di bilangan Senayan. Sedangkan Randia sibuk dengan photoshoot project nya bersama Deandra, teman mereka juga, tapi Mega, Aza, dan Jasmine tidak begitu dekat, hanya Randia yang dekat dengan Deandra diantara mereka berempat.

"Ga, here!" Aza melambaikan tangan kanannya ke arah Mega. Warna merah sackdress Aza sukses membuat Mega tidak kelimpungan mencari Aza.

"oh ya, Dizo batal kesini, katanya dia mau antar adiknya ke JCC. Adiknya ikut orkestra gitu, deh," Aza menyeruput minumannya. Dizo yang ia maksud adalah pacarnya yang sudah 8 bulan ini membina hubungan dengannya.

"loh, kenapa kamu nggak ikut Dizo, Za?" Mega melipat menu makanan dan melirik ke arah Aza yang kini sedang mengetik keypad ponselnya.

"kalo aku pergi, kasihan kamu! Ferro juga sedang sibuk kan? Kita tuh senasib, malam minggu ditinggal pacar." Aza membalas lirikan kedua mata Mega.

Mega mendadak ingat rasa bete nya terhadap Ferro, pacarnya. Malam minggu gini malah ngurusin tim basseball nya. Hah, nggak pernah gitu Ferro korbanin basseball sekaliii aja demi Mega.

Cewek memang egois, ya. Mega langsung menggelengkan kepalanya cepat. Nggak, Mega nggak boleh egois. Ferro kan ketua basseball, harus tanggung jawab sama klub nya. Mega harus maklum!

"eh, wait. Itu Maro bukan, sih?" Aza menunjuk panggung kecil yang berada tak jauh dari pintu masuk kafe ini. Mega turut melihat apa yang Aza tunjuk. Benar saja, itu Maro. Cowok itu adalah kakak kelas mereka di Koorven, beda 1 angkatan. Mereka duduk di grade 11th dan Maro di 12th. Dan kebetulan, Maro adalah sahabat Randia sejak di Skotlandia.

"well, singkat kata saya ada di sini karena desakan teman-teman saya untuk nyanyi sambil main gitar," Maro melirik gemas ke arah sekumpulan cowok di meja 5 dan 6. Ternyata Labraldoez, gang grade 12th angkatan Maro di MIS. Ada sekitar 12 orang yang ada di meja itu.

"ehm... Saya akan membawakan lagu dari salah satu band indie ibu kota, The Trees And The Wild. Mungkin cocok banget nih buat pengunjung sekalian yang sedang satnite sama pacar, atau sahabat-sahabat. I hope you enjoy," Maro segera memiringkan gitar di pangkuannya.

Mega dan Aza terdiam. Takjub dengan permainan dan suara indah Maro.

'So much to say
But I won't make it quick
I lose my mind
Each time I look at your
eyes
So why don't you close
them?

And all those sleepless
nights
Just reminds me of one thing though
How fast time passes us
by

I'll fight the future for
you (maybe)
I'll fight the future for
you (maybe)
I'll fight the future for
you (maybe)
I'll fight the future for
you (maybe)
Settle down

I'm passing this old
neighborhood
And see how it meant to
you
And I'm hoping you'll be
there

I'll fight the future for
you (maybe)
I'll fight the future for
you (maybe)
I'll fight the future for
you (maybe)
I'll fight the future for
you (maybe)
Settle down

And hope we'll reach
morning
And hope we'll reach
morning
And hope we'll reach
morning
I thought you saw it too

I'll fight the future for
you (maybe)
I'll fight the future for
you (maybe)I'll fight the future for
you (maybe)
I'll fight the future for
you (maybe)I'll fight the future for
you (maybe)'

Semua pengunjung bertepuk tangan, merupakan penyaluran rasa kagum dengan aksi Maro. Mega dan Aza pun turut bertepuk tangan. "keren, ya!" bisik Aza. Mega pun mengangguk pelan dan tersenyum.

"lagu tadi saya persembahkan... For the girl who shines my all days. Thanks, everybody. See ya'!" Maro meletakkan gitar dan mike nya di tempat semula. Lalu kembali ke meja tempat Labarldoez duduk. Dan ke-12 orang itu tersenyum penuh arti kepada Maro dan sedikit usil menggodanya. Maro cuma tertawa dan menimpali godaan dari sahabat-sahabatnya itu.

Mega dan Aza berpandangan satu sama lain. "so, kira-kira gebetan Maro siapa ya? Hmm..." Mega menyantap T-bones nya yang baru datang.

"bukan urusan kita juga, Ga. Ngapain rempong ngurusin privasi dia? Deket juga nggak, cuma saling kenal aja, kan," Aza tak mau ambil pusing, segera ia santap nasi hainan miliknya.

Mega mengangguk kecil. Tapi sejujurnya, entah mengapa kali ini Maro sangat menarik untuk dibahas. Mungkin nggak sekarang kali, ya.

Mungkin saja Randia tahu. Lumayan, buat bahan gossip iseng di MIS.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar