Randia menatap seluruh penjuru ruangan itu; ruangan yang diberi Dad khusus untuknya. Di dalam ruangan itu terdapat segala hal tentang Randia. Di dekat jendela besarnya, terdapat kanvas-kanvas lukisan yang tersusun asal-asalan. Seluruh dindingnya penuh dengan foto-foto yang inspiratif―percayalah, dinding itu benar-benar full tertempel foto-foto yang Randia cetak. Di sisi kiri, terdapat lemari buku yang bentuknya memanjang, berisi berbagai buku yang sangat mempengaruhi imajinasi Randia dalam berkarya.
Randia duduk bersila di lantai yang seluruh permukaannya tertutup karpet berwarna biru dongker. Kemudian, ia mengeluarkan buku hariannya dari totte bag nya, tenggelam di dunianya. Menulis, menulis, dan menulis.
Tentang Dean yang bercerita padanya kalau ia berhasil memenangkan kejuaraan basseball. Jasmine yang heboh memberi bocoran gossip tentang skandal antara Mr. Deffoe, guru matematikanya dengan Ms. Clara, guru kelas fashion. Dan yang terakhir, tentang Maro yang memberinya setangkai mawar putih untuk Randia, alasannya sih karena hari ini adalah hari persahabatan diantara mereka.
"hmm... Payahnya aku. Hari ini tanggal 10 Januari. Kok aku bisa lupa, ya?" gumam Randia pelan. Ia menutup bukunya. Tubuhnya ia rebahkan diatas meja bundar, tempat ia tadi menulis.
Pikirannya melayang, membayangkan Maro. Randia sadar, betapa beruntungnya Randia memiliki Maro sebagai sahabat. Maro... Maro sangat hebat. Maro selalu bersikap dewasa terhadapnya. Ia selalu bisa merengkuh dunia Randia.
Dan Randia nggak pernah merasa Maro mengganggu hidupnya. Randia justru ingin seperti ini, ingin Maro terus jadi sahabatnya, selalu disampingnya.
Tapi terkadang, Randia merasa dirinya sangat egois. Maro 'kan, juga punya dunia sendiri. Tidak mungkin Maro akan selalu ada buat Randia. Bagaimana kalo mereka masing-masing sudah berkeluarga?
Sekarang... Randia harus mandiri. Randia harus bisa berdiri sendiri. Randia... Randia harus menutupi rasa sakit penyakit ini dari Maro. Randia nggak mau Maro rela bangun jam 2 malam untuk antar Randia ke rumah sakit ketika penyakit Randia kumat beberapa bulan yang lalu.
Waktu itu Dad, Mom, dan Dean sedang pergi ke luar kota untuk menghadiri acara keluarga. Randia tidak ikut serta, karena tugas-tugas sekolahnya menumpuk. Jam 2 dini hari, penyakit Randia kambuh. Pak Jaja tidak ada di rumah, membuat Mbok Jum, pengabdi setia keluarga ini, panik. Beliau lalu menelepon Maro, satu-satunya orang yang bisa beliau hubungi.
Randia sempat melihat ekspresi Maro yang kalut ketika menggendong dirinya, berlari secepat mungkin di koridor rumah sakit, sambil berteriak, "suster! Dokter! UGD!!"
Randia nggak mau hal itu terulang lagi.
Nggak mau.