Sabtu, 10 September 2011

Reunion that Evokes The Memories

"you looks so great, honey."

Dad merangkul Randia hangat. Yang dipuji senyum-senyum saja.

Randia melirik Alexandre Christie miliknya. Pukul setengah 7 malam. Kini ia dan Dad sudah sampai di Balai Kartini untuk menghadiri acara gathering teman Dad ketika SMA dulu. Yeah, reuni.

By the way, Randia emang terlihat memukau malam ini. padahal, ia hanya dandan seadanya. Ya... dia liat sikon juga lah, ini kan reuni teman-teman Dad yang notabene udah berumur. Ia hanya mengenakan Floral Dress nya Zara, dan heels dari Marie Claire (sebenarnya Randia sadar, merk yang ia kenakan sangat commoners banget. Tapi Randia hanya tidak ingin terlihat berlebihan saja. Ia ogah mengenakan McCartneey dan Jimmy Choo). Rambutnya yang panjang ia ikat rapi.

"kamu nggak bakalan mati kebosanan, kok. Teman-teman Dad juga bawa anak-anaknya ke sini. banyak kok yang seumuran sama kamu. So, don't be bored here." Dad tersenyum menghibur kearah Randia. Gadisnya itu tersenyum lebar.

"nggak masalah kok, Dad. Randia memang mau nemenin Dad, kok. kasihan kan, Dad sendirian ke sini. Mom nggak bisa nemenin karena diundang dalam acara peluncuran heels terbarunya Prada di Plaza Indonesia. Randia nggak tega kalo Dad sendirian, hihihi." Randia merangkul pinggang Dad sambil tertawa kecil.

Sesampainya di dalam, Randia memisahkan diri dari Dad. Biarlah Dad melepas rindu dengan teman-teman sejawatnya. Lagipula Randia bisa ketawa garing kalo dengerin celotehan para orang tua itu. She prefer to find something to eat. Perutnya mulai berdemo minta diisi.

Ini dia, gerai pasta. Tersedia berbagai macam pasta mulai dari spagetti, fettucine, macaroni, lasagna, dan lain-lain. Dan pilihan jatuh kepada fettucine cheese mushroom with smooked beef. Hmm.. yummy.

Makanan di piring Randia telah habis. Ah, untungnya Randia tidak menganut pola diet. Gimana mau diet? Badannya aja kurus begini. Malahan, Randia butuh penggemukkan badan. So, makanan tadi sudah pas sekali untuk menjalani jadwal "penggemukkan" tubuhnya.

"Ran, sini, ikut Dad." tiba-tiba Dad berada di sampingnya. Kedua alis Randia beradu, bingung.
"mau ngapain, Dad?" Tanya gadis itu.
"Dad mau kenalin kamu sama temen Dad. ayo!"

Randia toh tidak bisa menolak. Ia ikut kemana Dad membawanya pergi. Ternyata, ke sebuah kerumunan teman-teman Dad. Dan... nggak ada satupun yang Randia kenal.

"ini anak gadisku. Randia. Ran, kenalin ini sahabat-sahabat Dad waktu SMA dulu. ini Om Darwin, ini Om Roy, dan ini Om Hadi." Dad mengenalkan sahabat-sahabatnya kepada Randia. Ia tersenyum lebar, lalu menyambut uluran-uluran tangan itu.

"cantik sekali anakmu, Putra. mirip sekali ya dengan istrimu," Roy Suhardja tanpa basa-basi melontarkan pujian untuk Randia. cewek itu hanya tertawa kecil. sedikit malu dengan pujian dari Om Roy. Ditambah lagi, nggak cuma Om Roy saja yang memuji, tapi Darwin Fathillah dan Hadi Triono juga memuji kecantikannya.

"Putra! Apa kabar? Sudah lama sekali, ya,"

Tiba-tiba sebuah suara muncul. Randia ikut menoleh kearah suara itu. Begitu pula dengan ketiga teman Dad, dan juga Dad yang merasa dipanggil oleh seseorang.

"ya Tuhan, Toni! Bagaimana kabarmu? Ah, kemarin aku liat kamu berpose untuk majalah Horges. Usahamu sepertinya semakin meroket, ya? Aku turut senang mendengarnya," ujar Dad. Kedua bola mata Randia berputar. yayaya... talk about business.

Wait. Randia juga sempat melihat majalah Horges milik Dad. Toni? Toni Widjajantoe...?

Widjajantoe...

"Alhamdulillah, Putra. Keadaanmu sendiri, bagaimana? Oh ya, Daisy kemana?"
"ah, aku juga baik. Daisy berhalangan untuk hadir, dan Randia yang menggantikan tugasnya untuk menemaniku."

Toni melirik seorang gadis yang ada diantara mereka. "kamu pasti Randia, eh?" tanya Toni, ragu. Randia menganggukkan kepalanya pelan, dan melempar senyum. "Putra, dia benar-benar mirip Daisy!"

"kamu sendirian, Put?"

"Herlin lagi di Frisco--San Fransisco--untuk melepas rindu dengan Gandhi. Sekarang Gandhi kerja di sana, mencoba mengikuti jejakku untuk membangun perusahaan. Tapi bedanya Gandhi bergerak di bidang tekstil. Dan kini ia telah menikah dengan Talitha Bhayangkarsoe. Aku telah menjadi kakek sekarang..." Tutur Toni dengan tawa renyah di potongan kalimatnya. "...dan aku kemari bersama anakku. Ah, itu dia," Pandangan Toni tertumpu pada seseorang yang tingginya sekitar 180 sentimeter. Seorang laki-laki.

"Nadhir, kemari, nak." seru Toni kepada laki-laki itu. Sosok yang awalnya membelakangi mereka pun memutar tubuhnya. Seketika, tubuh Randia menegang.

Itu... Apa yang Om Toni bilang? Nadhir? Dia bukan-- Astaga!

"ya, Ayah."

Laki-laki itu menghampiri mereka dan kemudian mendadak tegang, seperti apa yang Randia rasakan sekarang. Matanya menatap Randia tanpa berkedip--sedikitpun ia tak berkedip. Perlahan, Randia menggenggam dress nya, nggak peduli apakah akan kusut karena perbuatannya itu atau tidak. Pandangan Randia hanya tertuju kepada ujung sepatunya.

Rasanya ia ingin berteriak.

Naufal Nadhir Widjajantoe. Pantas saja Randia merasa familiar dengan nama keluarga Om Toni. ternyata... Nau anaknya Om Toni? Mata Randia terasa perih. Ia dapat merasakan otaknya kembali memutar memori-memori lamanya.

Memorinya dulu bersama Nau.

"Hai, Ran," sapa Nau kikuk. Ia tidak bisa mengontrol emosinya kini.

Toni dan Putra saling pandang. "oh, ternyata kalian sudah saling kenal?" Putra agak tercengang, tak menyangka kalau anaknya dan anak Toni sudah kenal sebelumnya. Padahal, dirinya dan Toni sudah tidak bertemu belasan tahun lamanya. Jadi... darimana mereka bisa saling kenal?

"Randia temanku sejak SMP, Om." jawab Nau, masih dengan nada yang kaku. Ia sendiri tidak pernah menyangka kalau ia bisa bertemu Randia-nya di sini. Ah, salah. Kini gadis cantik itu bukan lagi Randia-nya.

Nau tidak menyangka sedikitpun. Ketika ia pindah ke Frisco mengikuti Mas Gandhi dan Mbak Talitha, ia pikir ia tidak akan bertemu lagi dengan Randia. Sejujurnya, ia sendiri ogah balik lagi ke Jakarta. Ia enggan menemui kenangan-kenangan di sini. Tapi di sisi lain ia tidak tega kalau Bunda sendirian di rumah, karena Ayah sering ke luar kota bahkan ke luar negeri demi bisnisnya. Ia juga sebenarnya tidak ingin jadi benalu di keluarga kecilnya Mas Gandhi, walaupun ia sendiri tahu Mas Gandhi dan Mbak Talitha tidak akan pernah mengecapnya seperti itu.

Sunshine... kamu terlihat lebih kuat ya, sekarang. Tapi kumohon, jangan hindari safir itu. Angkat kepalamu, Ran.

"benarkah begitu, Randia?" Putra bertanya kepada putri sulungnya. Mau tak mau, Randia mengangkat kepalanya dan tersenyum masam kepada Dad, "iya, Nau... temanku. Waktu di Nusa Bangsa Indonesia." Randia juga melempar senyuman kepada Om Toni, berusaha menutupi keadaan dan menunjukkan kalau ia baik-baik saja.

"ini bukan saja reuni bagi kita, Putra. Sepertinya Nadhir--Nau-- dan Randia juga reunian," Toni berkata dengan ringan. Dad pun tertawa renyah.

Tapi, Nau dan juga Randia tidak dapat enjoy seperti ayah mereka. Ketegangan itu belum hilang.

Randia pamit untuk mencicipi dessert. Alasan sebenarnya adalah ia ingin melarikan diri sesegera mungkin dari sana.

--- | ---

Randia menghindarinya.

Nau sangat memaklumi hal itu. Randia masih benci kepadanya. Nau menyesap raspberry juice di tangannya. Masa lalu memang menyakitkan.

Andai Randia bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Andai Randia bisa tahu apa yang berkecamuk di dada Nau selama 3 tahun ini

Minggu, 22 Mei 2011

Confusion

Sudah waktunya pulang. Langit terlihat mendung sekali. Tapi Randia suka dengan suasana ini, maka dari itu Randia menahan diri untuk tidak langsung pulang. Sepertinya duduk di kantin akan terasa nyaman.

Randia membereskan buku-buku nya, lalu beranjak ke luar kelas. Sekolah masih ramai, siswa-siswi berkumpul di lobby untuk menunggu mobil yang menjemputnya masing-masing. Dan tak lama, hujan mulai turun rintik-rintik. Randia tersenyum kecil, lalu mengadahkan kepalanya ke arah langit.

Hujan... kamu nangis karena untuk menghiburku, kan?

"hey, mademoissle"

Ia yakin sekali kalau itu suara Maro. Randia pun menyikut perut Maro pelan, "bisa nggak sih berhenti kagetin aku dari belakang?" Randia memutar tubuhnya, menghadap Maro. Rambut laki-laki itu terlihat sedikit basah, sepertinya ia sempat terkena rintikan hujan.

"kemana ya yang enak kalau lagi hujan begini?" Maro mendekap kepala Randia, lalu membelainya lembut. Hidung Randia lagi-lagi mencium wangi parfum Maro, Calvin Klein MAN. Wanginya sangat memabukkan, membuat Randia selalu ingin tertidur bila menciumnya.

"aku... aku lagi mau ke kantin, Ro. Mau temani aku? Mega, Jasmin, dan Aza entah kemana... sepertinya mereka sibuk banget, deh. Aku telfon nggak bisa. Trus Deandra juga sibuk cheers. Mau yaaa temani aku?" Randia selalu seperti ini, bersikap manja terhadap Maro. Sahabatnya itu pun mengangguk pelan, bibirnya manyun. Sedangkan Randia tertawa kecil menanggapi reaksi Maro yang pura-pura ngambek itu.

Sesampainya di kantin, Randia segera menuju counter yang menjual pasta. "eh, Randia. Kamu mau pesan apa?" Joko, anak Pak Toto yang menjual pasta di kantin sekolahnya, menyapa Randia. Joko sudah lulus SMA, dan sekarang membantu ayahnya untuk berjualan makanan di kantin sekolah ini. Randia berteman cukup baik dengan Joko, karena Joko juga sering menemaninya ngobrol bila Randia sering ke kantin sendirian.

"Jo... kayaknya zoupa soup enak deh, ya. Hmm... minumnya hot lemon tea, ya."
"untuk Maro? nggak kamu pesanin, nih?"

Randia menoleh ke arah sahabatnya itu. Maro tengah duduk di meja dekat jendela besar, menopang dagu nya dengan tangan kanan dan kedua kupingnya pun tengah sibuk dengan headset yang telah tersambung dengan iPod.

"zoupa soup juga deh, biar bisa angetin badan. kayaknya dia lagi kurang enak badan. Tapi minumnya hot chocolate aja, biar lebih bertenaga"
"well, oke. 10 menit lagi meluncur ke meja kalian."
"hmm... okay"


Angin bertiup cukup kencang, begitu pula dengan rintikan hujan yang semakin deras. Rambut Randia berkibas diterpa angin. Ia sedikit kewalahan mengatur rambutnya, apalagi ia lupa bawa karet rambut. Dan ketika mendekat kearah Maro, ternyata Maro sedang tertawa geli ke arahnya.

"kok ngetawain aku, sih!" bibir Randia manyun, kesal sekaligus malu. Ia duduk di hadapan Maro dan melipat kedua tangannya diatas meja. Sedangkan Maro masih saja tertawa.

"ini, aku punya sapu tangan. Masih bersih, kok. Sebentar, ya." Maro berjalan ke belakang Randia. menata rambut gadis itu dengan rapi, lalu mengikatnya dengan sapu tangan nya yang berwarna biru. "nah, udah rapi, nih."

Ran... you're really beautiful for me. Coba aja aku bisa peluk kamu terus, Ran.

Tidak lama kemudian, Joko datang bersama pesanan Randia. Kening Maro sedikit mengerut, "Jo, nggak salah nih Randia pesan sebanyak ini? Dia dalam proses penggemukan badan atau gimana, nih?" Sesungguhnya Maro tidak benar-benar mengajukan pertanyaan itu pada Joko saja, tapi juga pada Randia yang Maro yakin juga turut mendengarnya.

Joko tertawa kecil. Ia pun menyajikan makanan dan minuman tersebut. "Randia pesan ini juga buat lo. Katanya lo lagi nggak enak badan gitu, butuh asupan yang hangat. Iya kan, Ran?" Joko melirik ke arah Randia.

"iya, Ro. Kamu tuh suntuk banget keliatannya. Ayo, kamu makan, ya. By the way, makasih, Joko." kata Randia lembut. Joko kembali ke counternya. Dan Randia menarik Maro ke tempat asalnya, "sekarang kamu makan ya, jangan sampai nggak makan. Aku nggak mau kamu sakit."

Maro tersenyum kecil. Rasanya perasaan ini semakin besar saja.

***

"kamu lagi suka sama siapa, Ro? Jujur deh sama aku."

Entah kenapa Randia merasa ia harus menanyakan ini pada Maro. Setelah mendengar cerita Aza dan Mega kemarin lewat chat messenger, Randia sedikit kesal dengan Maro. Kenapa Maro nggak cerita kalau dia lagi suka sama cewek? Randia sahabatnya, kan?

"hah?!" Maro sedikit tersedak. Dirogohnya mineral water yang selalu ia bawa setiap saat, kemudian meminumnya. Pertanyaan Randia sukses membuat pipinya merona merah dan.... salah tingkah sampai-sampai tersedak seperti ini. "kamu ngomong apa, sih?"

"jujur aja, deh. Kamu lagi suka sama siapa? Dari dulu kamu nggak pernah ngomongin cewek deh, kayaknya. Eh, pernah sih, tapi ya cuma ngomongin doang, bukan cerita kalo kamu suka atau nggak." Randia menyendokkan soupnya ke dalam mulut.

"aku lagi nggak suka sama siapa-siapa kok, jangan ngaco." Maro berusaha stay cool, dia melahap soup nya perlahan. Uh... andai aku bisa ngomong ke kamu, Ran.

"aku nggak suka ah, kalau kamu bohong sama aku."

Maro mematung. Ditatapnya Randia yang sedang menundukkan kepalanya.

"nanti aku cerita, deh. Tapi nggak sekarang, ya. Lagipula... nggak penting, ah." setelah Maro mengucapkan itu, mereka berdua terdiam. Sampai kedua soup mereka habis.

"maaf, harusnya aku nggak ganggu privasi kamu. Maaf ya, Maro. Aku janji, aku nggak akan mendesak kamu untuk cerita sampai kamu yang punya inisiatif sendiri untuk bilang ke aku."

"nggak usah minta maaf, Ran. it doesn't matter if you want me to share my story to you. Kamu kan, sahabatku." Maro menarik napas dalam. Kata 'sahabat' yang tadi ia tekankan terasa ngilu. "udah sewajarnya kamu kesal kalo aku nggak cerita apa-apa."

Tiba-tiba, Maro teringat dengan perbincangannya dengan beberapa teman dekat cowoknya ketika di kelas. Ia, Perro, Kahil, dan Rei membicarakan tentang pertunjukkan balet yang akan diadakan di GKJ. Tim balet dari Mearrow International School yang mengadakannya. Pacar Kahlil, Dee, terpilih di tim balet tersebut. Kahlil pun mengajak Perro, Rei, dan Kahlil untuk ikut menonton. Maro punya ide untuk mengajak Randia. Karena Maro sangat tahu kalau Randia suka dengan balet.

"mau nonton balet? Sabtu ini, di GKJ. Kahlil ngajak aku. Dan aku rasa kamu juga bakalan suka. Dee satu-satunya anak kelas 11 yang ikut, loh. yang lain kan anak dari kelas 12."

Randia mengangkat alisnya, "aku tahu, kok. Kemarin Dee kasih aku tiket, tapi aku tolak. Soalnya... Sabtu ini aku udah janji sama Dad untuk menemaninya ke acara sahabatnya. Aku nggak enak kalau aku batalkan, soalnya Dad semangat banget mau kenalkan aku ke teman-temannya."

"mau dijodohkan?"
"no way! aku bukan siti nurbaya!"

Maro mengulum senyumnya. Lagi-lagi, nggak bisa jalan sama Randia. Padahal, sudah lama mereka nggak pergi keluar bareng. "ya sudah, nanti aku nonton sama mereka aja."

Feelingnya berubah jadi buruk. Maro resah. Ada sesuatu yang mengganggunya, entah apa itu.

Rabu, 02 Maret 2011

Who is She, by the way?

Sabtu sore ini, Mega pergi menuju The Koffee, kafe langganannya bersama Jasmine, Aza, dan Randia. Tapi kali ini, Mega hanya pergi bersama Aza karena Jasmine dan Randia sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Kalau Jasmine sibuk mengurusi pensi sekolah yang akan dilaksanakan 2 bulan lagi di bilangan Senayan. Sedangkan Randia sibuk dengan photoshoot project nya bersama Deandra, teman mereka juga, tapi Mega, Aza, dan Jasmine tidak begitu dekat, hanya Randia yang dekat dengan Deandra diantara mereka berempat.

"Ga, here!" Aza melambaikan tangan kanannya ke arah Mega. Warna merah sackdress Aza sukses membuat Mega tidak kelimpungan mencari Aza.

"oh ya, Dizo batal kesini, katanya dia mau antar adiknya ke JCC. Adiknya ikut orkestra gitu, deh," Aza menyeruput minumannya. Dizo yang ia maksud adalah pacarnya yang sudah 8 bulan ini membina hubungan dengannya.

"loh, kenapa kamu nggak ikut Dizo, Za?" Mega melipat menu makanan dan melirik ke arah Aza yang kini sedang mengetik keypad ponselnya.

"kalo aku pergi, kasihan kamu! Ferro juga sedang sibuk kan? Kita tuh senasib, malam minggu ditinggal pacar." Aza membalas lirikan kedua mata Mega.

Mega mendadak ingat rasa bete nya terhadap Ferro, pacarnya. Malam minggu gini malah ngurusin tim basseball nya. Hah, nggak pernah gitu Ferro korbanin basseball sekaliii aja demi Mega.

Cewek memang egois, ya. Mega langsung menggelengkan kepalanya cepat. Nggak, Mega nggak boleh egois. Ferro kan ketua basseball, harus tanggung jawab sama klub nya. Mega harus maklum!

"eh, wait. Itu Maro bukan, sih?" Aza menunjuk panggung kecil yang berada tak jauh dari pintu masuk kafe ini. Mega turut melihat apa yang Aza tunjuk. Benar saja, itu Maro. Cowok itu adalah kakak kelas mereka di Koorven, beda 1 angkatan. Mereka duduk di grade 11th dan Maro di 12th. Dan kebetulan, Maro adalah sahabat Randia sejak di Skotlandia.

"well, singkat kata saya ada di sini karena desakan teman-teman saya untuk nyanyi sambil main gitar," Maro melirik gemas ke arah sekumpulan cowok di meja 5 dan 6. Ternyata Labraldoez, gang grade 12th angkatan Maro di MIS. Ada sekitar 12 orang yang ada di meja itu.

"ehm... Saya akan membawakan lagu dari salah satu band indie ibu kota, The Trees And The Wild. Mungkin cocok banget nih buat pengunjung sekalian yang sedang satnite sama pacar, atau sahabat-sahabat. I hope you enjoy," Maro segera memiringkan gitar di pangkuannya.

Mega dan Aza terdiam. Takjub dengan permainan dan suara indah Maro.

'So much to say
But I won't make it quick
I lose my mind
Each time I look at your
eyes
So why don't you close
them?

And all those sleepless
nights
Just reminds me of one thing though
How fast time passes us
by

I'll fight the future for
you (maybe)
I'll fight the future for
you (maybe)
I'll fight the future for
you (maybe)
I'll fight the future for
you (maybe)
Settle down

I'm passing this old
neighborhood
And see how it meant to
you
And I'm hoping you'll be
there

I'll fight the future for
you (maybe)
I'll fight the future for
you (maybe)
I'll fight the future for
you (maybe)
I'll fight the future for
you (maybe)
Settle down

And hope we'll reach
morning
And hope we'll reach
morning
And hope we'll reach
morning
I thought you saw it too

I'll fight the future for
you (maybe)
I'll fight the future for
you (maybe)I'll fight the future for
you (maybe)
I'll fight the future for
you (maybe)I'll fight the future for
you (maybe)'

Semua pengunjung bertepuk tangan, merupakan penyaluran rasa kagum dengan aksi Maro. Mega dan Aza pun turut bertepuk tangan. "keren, ya!" bisik Aza. Mega pun mengangguk pelan dan tersenyum.

"lagu tadi saya persembahkan... For the girl who shines my all days. Thanks, everybody. See ya'!" Maro meletakkan gitar dan mike nya di tempat semula. Lalu kembali ke meja tempat Labarldoez duduk. Dan ke-12 orang itu tersenyum penuh arti kepada Maro dan sedikit usil menggodanya. Maro cuma tertawa dan menimpali godaan dari sahabat-sahabatnya itu.

Mega dan Aza berpandangan satu sama lain. "so, kira-kira gebetan Maro siapa ya? Hmm..." Mega menyantap T-bones nya yang baru datang.

"bukan urusan kita juga, Ga. Ngapain rempong ngurusin privasi dia? Deket juga nggak, cuma saling kenal aja, kan," Aza tak mau ambil pusing, segera ia santap nasi hainan miliknya.

Mega mengangguk kecil. Tapi sejujurnya, entah mengapa kali ini Maro sangat menarik untuk dibahas. Mungkin nggak sekarang kali, ya.

Mungkin saja Randia tahu. Lumayan, buat bahan gossip iseng di MIS.

Senin, 24 Januari 2011

She Won't Do That Anymore

Randia menatap seluruh penjuru ruangan itu; ruangan yang diberi Dad khusus untuknya. Di dalam ruangan itu terdapat segala hal tentang Randia. Di dekat jendela besarnya, terdapat kanvas-kanvas lukisan yang tersusun asal-asalan. Seluruh dindingnya penuh dengan foto-foto yang inspiratif―percayalah, dinding itu benar-benar full tertempel foto-foto yang Randia cetak. Di sisi kiri, terdapat lemari buku yang bentuknya memanjang, berisi berbagai buku yang sangat mempengaruhi imajinasi Randia dalam berkarya.

Randia duduk bersila di lantai yang seluruh permukaannya tertutup karpet berwarna biru dongker. Kemudian, ia mengeluarkan buku hariannya dari totte bag nya, tenggelam di dunianya. Menulis, menulis, dan menulis.

Tentang Dean yang bercerita padanya kalau ia berhasil memenangkan kejuaraan basseball. Jasmine yang heboh memberi bocoran gossip tentang skandal antara Mr. Deffoe, guru matematikanya dengan Ms. Clara, guru kelas fashion. Dan yang terakhir, tentang Maro yang memberinya setangkai mawar putih untuk Randia, alasannya sih karena hari ini adalah hari persahabatan diantara mereka.

"hmm... Payahnya aku. Hari ini tanggal 10 Januari. Kok aku bisa lupa, ya?" gumam Randia pelan. Ia menutup bukunya. Tubuhnya ia rebahkan diatas meja bundar, tempat ia tadi menulis.

Pikirannya melayang, membayangkan Maro. Randia sadar, betapa beruntungnya Randia memiliki Maro sebagai sahabat. Maro... Maro sangat hebat. Maro selalu bersikap dewasa terhadapnya. Ia selalu bisa merengkuh dunia Randia.

Dan Randia nggak pernah merasa Maro mengganggu hidupnya. Randia justru ingin seperti ini, ingin Maro terus jadi sahabatnya, selalu disampingnya.

Tapi terkadang, Randia merasa dirinya sangat egois. Maro 'kan, juga punya dunia sendiri. Tidak mungkin Maro akan selalu ada buat Randia. Bagaimana kalo mereka masing-masing sudah berkeluarga?

Sekarang... Randia harus mandiri. Randia harus bisa berdiri sendiri. Randia... Randia harus menutupi rasa sakit penyakit ini dari Maro. Randia nggak mau Maro rela bangun jam 2 malam untuk antar Randia ke rumah sakit ketika penyakit Randia kumat beberapa bulan yang lalu.

Waktu itu Dad, Mom, dan Dean sedang pergi ke luar kota untuk menghadiri acara keluarga. Randia tidak ikut serta, karena tugas-tugas sekolahnya menumpuk. Jam 2 dini hari, penyakit Randia kambuh. Pak Jaja tidak ada di rumah, membuat Mbok Jum, pengabdi setia keluarga ini, panik. Beliau lalu menelepon Maro, satu-satunya orang yang bisa beliau hubungi.

Randia sempat melihat ekspresi Maro yang kalut ketika menggendong dirinya, berlari secepat mungkin di koridor rumah sakit, sambil berteriak, "suster! Dokter! UGD!!"

Randia nggak mau hal itu terulang lagi.

Nggak mau.