"aaa Malaysia jauh, darl!"
"but i have my own dream,"
"yeah, demi mimpimu. Good luck, ya!"
"haha, kesannya kok aku kayak bakalan pergi besok sih?"
"iya, ya... Masih 3 tahun lagi. Gonna miss you, darl,"
"me too..."
***
Randia bangun dari tidurnya. Tak tenang. Ia lirik jam yang ada diatas buffet sebelah tempat tidurnya.
06.17 AM
"kenapa harus mimpiin itu lagi?" bisik Randia perlahan. Ia menutup seluruh wajahnya dengan kedua tangannya.
Lelah.
Gadis itu melirik iPhonenya. Seperti biasa, no message, no calling.
Hampir sebulan ini orang yang sering mengiriminya ucapan selamat pagi pergi. Sepi, tentunya. Nggak ada yang bisa memberinya perhatian ekstra, seperti apa yang 'dia' lakukan dulu.
Randia rindu.
Tapi, semua nggak akan balik lagi.
***
"good morning, sweetheart!" Dad memberi kecupan kecil di kening Randia, habbitnya Dad setiap pagi terhadap istri dan anak-anaknya, ketika Randia turun ke meja makan.
"good morning, Mr. Busy Potatoe," Randia membalas sapaan Dad dengan nama panggilan khusus darinya.
"i'm sorry, candy. Dad harus bantuin Om Bagas mengurus salah satu anak perusahaan Adidjoyo,"
Dad memang super sibuk mengurus perusahan Adidjoyo, perusahaan properti kakeknya Randia. Hmm nggak cuma Dad sih, ada kakaknya Dad yang bernama Om Bagas dan 2 adik Dad yang lain, Om Wisnu dan Tante Ajeng. Tapi karena posisi Dad yang cukup tinggi, cukup tinggi pula jam terbangnya di perusahaan Adidjoyo.
"Dad, nggak lupa kan sama janji Dad untuk ice skating hari ini?" Dean ikut nimbrung. Ia melahap sandwich bacoon buatan Mom.
"of course, superman! Dad udah beli tiketnya. Mom, yakin nih nggak ikut?" Dad melirik Mom.
"big No for ice skating! Trauma banget!!"
Randia jadi ingat cerita Mom. Dulu ketika Mom berumur 20 tahun, paha kanan Mom sobek karena tergores besi saat sedang main ice skating waktu winter. Trauma itu masih ada sampai kini.
"kalian berdua siap-siap ya. Biar puas seharian ini!" Dad memberi kerlingan manja pada Randia dan Dean. Otomatis kakak beradik itu mengernyit bingung.
Dad makin hari makin aneh...
***
"Dad, please, American Grill," Dean memasang puppy eyesnya.
"jangan, Dean! Banyak lemak banget, tau. Hari ini stop junk food bisa, kan? Kemarin Pak Jaja bilang kamu minta dianterin ke Pizza Hut sepulang sekolah," Randia mulai ngomel. Dia nggak begitu suka Junk Life. Boleh lah makan junk food, tapi pleaaase jangan sering-sering!
"kak..."
"no. No. And... No. Dad, kita makan seafood aja," Randia menarik tangan Dad.
"seafood has many collestrols. Boo!" Dean menjulurkan lidahnya.
"tapi..."
Dad ambil suara, "udah deh, stop it. Kalau mau bandingkan mana yang lebih sehat, pasti nanti ujung-ujungnya makan salad, deh. Kita makan masakan sunda aja deh. Ribet nih kalau keputusan ada di tangan kalian,"
Randia dan Dean menyeringai. Kadang sikap simpel nya Dad berguna juga.
Sesampainya di restoran sunda yang mereka tuju, mereka bertiga mengikuti pelayan yang mengenakan baju kebaya, seragam restoran ini, sepertinya. Kemudian mereka duduk di meja yang letaknya di dekat jendela besar. Disana, mereka dapat melihat orang-orang yang berlalu lalang di mall ini.
"Dad, kapan-kapan aku diajari skating yang bisa berputar 10 kali, dong. Aku mau kalahin kakak. Dia jago banget, sih!" Dean melirik Randia. Yang diliriknya senyam-senyum, terbang dipuji karena keahliannya.
"next time, ya. Di Jakarta tempat ice skatingnya nggak banyak. Nggak kayak di Arberdeen dulu. Disini juga nggak ada winter. Kak Randia bisa ice skating karena dulu ikut course nya. Kamu mau?" Dad mencomot tempe kering yang ada di hadapannya.
"he? Nggak perlu deh. Ice skating bagiku cukup untuk pengisi waktu luang aja," Dean ikut menyomot tempe kering itu.
"by the way, lusa kamu jadwal ke Spore, kan, Ran? Udah prepare?"
Pertanyaan Dad membuat semangat Randia pudar. "udah, Dad." jawabnya.
"listen to me, candy. I do it all for you. Andai kamu nggak nolak tinggal disana sama Tante Ajeng, pasti nggak bakal capek kayak gini, bolak-balik 2 bulan sekali." Dad menatap Randia. Anak sulungnya itu malah menolak tatapan matanya.
"please try to understand to what i want, Dad," ujar Randia.
Dean mengambil suara, "she want to keep beside us, Dad. Maaf sebelumnya kalau aku ikut campur".
Dad tersenyum, "it's not your fault, boy. I'm understand," Dad tersenyum ke arah Dean, lalu menggenggam tangan Randia dan tersenyum getir.
Randia mati-matian menahan air matanya agar tidak jatuh.
"thanks for today, Dad, Dean. I'm going to remember this," Randia menyeruput teh manis hangat yang baru diantar oleh pelayan.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar