Senin, 20 Desember 2010

Maro, and His Heart's Screams

Siang ini, ibu menyuruh Maro untuk mampir sebentar ke Food Hall untuk membeli beberapa kilo buah setelah sepulang sekolah nanti. Karena Maro paling nggak bisa melawan perintah orang tua, dilaksanakannyalah permintaan ibu.

Sesampainya di Food Hall, Maro segera menyambar troli kecil. Ia berjalan perlahan sambil mendorong troli tersebut kearah rak pendingin tempat penyimpanan buah. Rak yang panjangnya sekitar 10 meter membentang dari barat ke timur supermarket ini. Satu kilo jeruk, satu kilo anggur, dan dua kilo buah kesukaannya, pir, ia masukkan satu-satu ke dalam plastik.

"i hate Pear. But i never understand why you love it so much,"

Maro menoleh ke sumber suara. Randia, ternyata. Gadis itu tidak membawa troli, hanya ada 3 bungkus cokelat kesukaannya di genggaman kedua tangannya; dua Snickers dan satu Van Houten.

"and you always love them. Snickers and Van Houten. There's more delicious chocolate than both of them. M n c, for example," Maro memasukkan 'koloni' buah-buahnya ke dalam troli.

"that's chocolate candy. Agak beda dengan cokelat yang ku suka," Randia menjelaskan dengan gemas.

"sama aja, kan? Judulnya 'cokelat'. Hahaha," Maro selalu begitu, nggak akan pernah mau kalah dari Randia.

"so, put your chocolates in my trolly. Aku traktir," Maro mencubit pipi kanan Randia pelan. Randia agak jengkel, tapi rasa jengkelnya berhasil ditutupi oleh rasa senangnya karena ditraktir ke sekian kalinya oleh Maro.

Randia tersenyum lepas. Dan... Rasanya Maro ingin memberhentikan waktu agar ia dapat terus melihat senyum itu.

***

"kok kita bisa tiba-tiba ketemu di Food Hall ya? Hahaha," Maro menyesap Hot Hazelnut Chocolate Whipecream nya. Sebelum memutuskan pulang, Randia mengajaknya untuk duduk sebentar di Starbucks.

"tadi pas pulang sekolah, aku lagi pengin banget makan cokelat. Mumpung lagi lewat HI, aku ke Grand Indonesia dulu deh, hehe. Oh ya sekalian tukar ukuran sackdress di Mango. Ternyata aku lebih kecil dari ukuran yang aku beli dua minggu yang lalu," Randia memainkan sedotannya. Maro sendiri memesan Cappucino blended.

Sebersit kemudian, ke khawatiran muncul di benak Maro. Ia menggenggam pergelangan tangan Randia. Ya... Sedikit lebih kurus dibandingkan 4 bulan yang lalu saat Maro menggandengnya ketika mereka ke Dufan.

"are you ok, Ran? Kamu memang terlihat sedikit lebih kurus. Kamu makan teratur kan?" Maro menatap kedua bola mata biru safir itu. Randia tersenyum kecil. "nafsu makan ku sempat berkurang. Tapi sekarang udah nggak kok".

Maro merangkul Randia, "mikirin aku terus sih, jadinya kurang makan deh," Maro sedikit mencairkan suasana. Padahal di dalam hatinya, ia benar-benar khawatir pada gadis berambut kecokelatan ini.

"i'm ok, Maro. Jangan khawatir." Randia membalas rangkulan sahabatnya ini.

Maro diam. Sibuk dengan pikirannya sendiri.

***

Malam makin larut. Jam di kamar Maro sudah menunjukkan pukul 12 malam dan Maro belum berhasil tidur.

Ia melirik buffet kecil yang ada di sebelah tempat tidurnya. Terdapat pigura yang berisikan foto dirinya bersama gadis yang telah ia suka selama ini.

Ugh. Randia.

***

Maro ingat betul pertemuan pertama mereka. Di Benjamin Park, dekat dengan Elizabeth Road di kota Arberdeen, Skotlandia. Waktu itu Maro sendirian di salah satu ayunan taman itu, hanya bisa terdiam melihat anak-anak asing sebaya nya bermain. Maro yang kala itu baru pindah dari Jakarta, belum punya teman satupun. Bahasa inggrisnya pun belum lancar betul.

Dan saat itu gadis kecil berkepang dua menghampirinya. Oh, yeah, Maro masih ingat betul apa yang gadis itu kenakan; floral dress berwarna biru dan hijau, sangat pas dengan musim panas yang sedang berlangsung. Kedua mata biru safir itu pun menatap Maro senang. Lalu gadis kecil itu menyapa Maro.

Awalnya Maro benar-benar takut untuk berbicara. Bahasa inggrisnya masih minim sekali. Hampir saja dia menangis, dan dia keceplosan berbicara dengan bahasa Indonesia. Gadis kecil itu pun menyahut, 'kamu orang Indonesia? Aku juga, loh! Papa ku asli Indonesia, jadi aku bisa mengerti. Yah... Walaupun sedikit. Namaku Randia,'

Maro lega. Dia tak jadi menangis. Maro menjabat tangan mungil itu, 'aku... Maro'. Sepersekon kemudian, Randia tersenyum lagi. Lalu, ia mengeluarkan sesuatu dari saku kanannya. "kamu mau permen?" Randia menyodorkan satu buah permen kunyah pada Maro. Maro pun menyambutnya dengan senyuman yang tak kalah lebar.

***

Randia kini sudah beranjak dewasa. Ia ingat, betapa polosnya Randia ketika ia memberitahunya kalau ia telah mendapat 'tamu bulanan'. Atau saat Randia bercerita tentang pacar pertamanya.

Maro sangat menyayanginya. Randia bagaikan safir sesungguhnya, maka dari itu Maro menjaganya dengan hati-hati, penuh dengan ketulusan. Tapi sayangnya, Maro pernah gagal. Ketika Randia tiba-tiba dikhianati oleh laki-laki itu...

Ia merasa terpuruk. Melihat Randia yang terus-terusan murung justru mencambuk hati Maro. Perih. Untungnya... Itu tidak berlangsung lama. Randia segera bangkit lagi. Walau terkadang Maro masih mendapati Randia melamun. Pasti memikirkan laki-laki brengsek itu...

Dibukanya pintu buffet kecil itu. Terdapat sebuah kotak kecil di dalamnya. Maro meraihnya. Lalu ia membuka tutup kotak hitam itu. Puluhan foto Randia ada disana. Foto ketika gadis itu tertidur, saat merayakan ulang tahun, dan masih banyak pose-pose yang lain. Di dalam kotak itu juga terdapat gelang yang pernah mereka buat berdua saat sebelum Maro pindah ke Jakarta.

Kotak itu penuh dengan Randia...

***

Berkali-kali Maro berandai pada Tuhan. Memohon dengan sepenuh hati. Tapi kuasa Tuhan memang tidak ada yang bisa mencegah.

"andai aku yang sakit. Bukan Randia".

Minggu, 05 Desember 2010

Dad and Dean.

"aaa Malaysia jauh, darl!"

"but i have my own dream,"

"yeah, demi mimpimu. Good luck, ya!"

"haha, kesannya kok aku kayak bakalan pergi besok sih?"

"iya, ya... Masih 3 tahun lagi. Gonna miss you, darl,"

"me too..."

***

Randia bangun dari tidurnya. Tak tenang. Ia lirik jam yang ada diatas buffet sebelah tempat tidurnya.

06.17 AM

"kenapa harus mimpiin itu lagi?" bisik Randia perlahan. Ia menutup seluruh wajahnya dengan kedua tangannya.

Lelah.

Gadis itu melirik iPhonenya. Seperti biasa, no message, no calling.

Hampir sebulan ini orang yang sering mengiriminya ucapan selamat pagi pergi. Sepi, tentunya. Nggak ada yang bisa memberinya perhatian ekstra, seperti apa yang 'dia' lakukan dulu.

Randia rindu.

Tapi, semua nggak akan balik lagi.

***

"good morning, sweetheart!" Dad memberi kecupan kecil di kening Randia, habbitnya Dad setiap pagi terhadap istri dan anak-anaknya, ketika Randia turun ke meja makan.

"good morning, Mr. Busy Potatoe," Randia membalas sapaan Dad dengan nama panggilan khusus darinya.

"i'm sorry, candy. Dad harus bantuin Om Bagas mengurus salah satu anak perusahaan Adidjoyo,"

Dad memang super sibuk mengurus perusahan Adidjoyo, perusahaan properti kakeknya Randia. Hmm nggak cuma Dad sih, ada kakaknya Dad yang bernama Om Bagas dan 2 adik Dad yang lain, Om Wisnu dan Tante Ajeng. Tapi karena posisi Dad yang cukup tinggi, cukup tinggi pula jam terbangnya di perusahaan Adidjoyo.

"Dad, nggak lupa kan sama janji Dad untuk ice skating hari ini?" Dean ikut nimbrung. Ia melahap sandwich bacoon buatan Mom.

"of course, superman! Dad udah beli tiketnya. Mom, yakin nih nggak ikut?" Dad melirik Mom.

"big No for ice skating! Trauma banget!!"

Randia jadi ingat cerita Mom. Dulu ketika Mom berumur 20 tahun, paha kanan Mom sobek karena tergores besi saat sedang main ice skating waktu winter. Trauma itu masih ada sampai kini.

"kalian berdua siap-siap ya. Biar puas seharian ini!" Dad memberi kerlingan manja pada Randia dan Dean. Otomatis kakak beradik itu mengernyit bingung.

Dad makin hari makin aneh...

***

"Dad, please, American Grill," Dean memasang puppy eyesnya.

"jangan, Dean! Banyak lemak banget, tau. Hari ini stop junk food bisa, kan? Kemarin Pak Jaja bilang kamu minta dianterin ke Pizza Hut sepulang sekolah," Randia mulai ngomel. Dia nggak begitu suka Junk Life. Boleh lah makan junk food, tapi pleaaase jangan sering-sering!

"kak..."
"no. No. And... No. Dad, kita makan seafood aja," Randia menarik tangan Dad.

"seafood has many collestrols. Boo!" Dean menjulurkan lidahnya.

"tapi..."

Dad ambil suara, "udah deh, stop it. Kalau mau bandingkan mana yang lebih sehat, pasti nanti ujung-ujungnya makan salad, deh. Kita makan masakan sunda aja deh. Ribet nih kalau keputusan ada di tangan kalian,"

Randia dan Dean menyeringai. Kadang sikap simpel nya Dad berguna juga.

Sesampainya di restoran sunda yang mereka tuju, mereka bertiga mengikuti pelayan yang mengenakan baju kebaya, seragam restoran ini, sepertinya. Kemudian mereka duduk di meja yang letaknya di dekat jendela besar. Disana, mereka dapat melihat orang-orang yang berlalu lalang di mall ini.

"Dad, kapan-kapan aku diajari skating yang bisa berputar 10 kali, dong. Aku mau kalahin kakak. Dia jago banget, sih!" Dean melirik Randia. Yang diliriknya senyam-senyum, terbang dipuji karena keahliannya.

"next time, ya. Di Jakarta tempat ice skatingnya nggak banyak. Nggak kayak di Arberdeen dulu. Disini juga nggak ada winter. Kak Randia bisa ice skating karena dulu ikut course nya. Kamu mau?" Dad mencomot tempe kering yang ada di hadapannya.

"he? Nggak perlu deh. Ice skating bagiku cukup untuk pengisi waktu luang aja," Dean ikut menyomot tempe kering itu.

"by the way, lusa kamu jadwal ke Spore, kan, Ran? Udah prepare?"

Pertanyaan Dad membuat semangat Randia pudar. "udah, Dad." jawabnya.

"listen to me, candy. I do it all for you. Andai kamu nggak nolak tinggal disana sama Tante Ajeng, pasti nggak bakal capek kayak gini, bolak-balik 2 bulan sekali." Dad menatap Randia. Anak sulungnya itu malah menolak tatapan matanya.

"please try to understand to what i want, Dad," ujar Randia.

Dean mengambil suara, "she want to keep beside us, Dad. Maaf sebelumnya kalau aku ikut campur".

Dad tersenyum, "it's not your fault, boy. I'm understand," Dad tersenyum ke arah Dean, lalu menggenggam tangan Randia dan tersenyum getir.

Randia mati-matian menahan air matanya agar tidak jatuh.

"thanks for today, Dad, Dean. I'm going to remember this," Randia menyeruput teh manis hangat yang baru diantar oleh pelayan.

***