and broken heart
Are mending on the shelf
I saw you holding hands
Standing close to
someone else
Now I sit all alone
Wishing all my feelings
was gone
I gave my best to you
Nothing for me to do...''
One last cry milik Brian McKnight mengalun di kedua telinga Randia, melalui headset yang tengah tersambung dengan iPhone nya. Randia menatap ke luar jendela mobilnya. Hujan turun mengguyur Jakarta. AC mobil pun terasa semakin menusuk tulang.
Pak Jaja, supir keluarganya, terlihat sedang fokus menyetir. Di depannya mobil-mobil berjalan lambat. Oh yeah, Jakarta selalu macet bila hujan turun dengan deras.
Jakarta jauh berbeda dengan Arberdeen, sebuah kota di Skotlandia, tempat tinggalnya ketika Randia masih kecil. Arberdeen begitu teratur, tidak seperti Jakarta―kalau dihitung―yang sudah Randia tinggali selama 4 tahun ini.
Randia mengulas senyum tipis. 'i miss you, Arberdeen'
Lagu tiba-tiba terhenti. Sebuah panggilan masuk, ternyata, ''yes, Randia's here'' sahutnya.
"Mom baru aja keluar Pasific Place and now on the way to home. Hujan deras banget, Ya Tuhan. Are you okay, dahling? Pak Jaja udah jemput kan?" Mom, seperti biasa, dengan nada khawatirnya.
"i'm okay. Yes, ini udah di jalan kok. Masih di daerah Cilandak, sih. Maybe we need one hour to get home" Randia menyenderkan kepalanya di jendela. Masih betah melihat hujan yang tak hentinya turun.
"for God's sake! Jakarta nggak ada matinya! Haaah Mom stress nih nyetir sendiri. Please ya, Pasific Place ke Senayan tuh nggak jauh. Tapi ini macet banget, Ran! We must ask to Dad buat pindah ke Singapura secepatnya." Randia menahan tawa mendengar Mom yang ngoceh nggak karuan. Mom ada benarnya juga sih, Pasific Place ke rumahnya di Senayan kan nggak jauh.
"Mom, please. Dad sudah menepati janjinya padaku agar tinggal disini. Aku cuma mau tinggal di Indonesia," Randia bangkit dari senderannya, mengambil Cappucino di coffee plat mobilnya. Ia Sedikit kecewa karena Starbucksnya sudah dingin.
"iya, sayang. By the way... my daughter is so 'teen' now. Nggak nyangka, deh. Rasanya baru kemarin kamu merengek ke Mom minta dibeliin satu set lengkap Toy Story."
"come on, Mom. Aku udah 15 tahun dan bentar lagi sweet sixteen! Jangan anggap aku adalah Randia kecilmu yang suka banget pake toetoe ballet!"
"sudahlah, ngobrol sama kamu nggak akan ada habisnya. Mom nyetir dulu, ya. Bye-bye!"
Yeah. Sekarang Randia dihinggapi rasa itu lagi.
Bosan.
***
"i'm home! Anybody here?" Randia melepas sepatu converse nya. Lalu ia berjalan menuju ruang keluarga. Disana ada Dean yang sedang asyik nonton Ben 10 Alien Force.
"Hai, Kak! Tumben baru pulang." Dean memberi tempat untuk Randia duduk.
"traffic jam. Pathetic. Kejebak macet dimana-mana, Dean. Kamu sih enak, sekolahmu dekat. By the way, Mom udah pulang?" Randia mengelus rambut Dean yang berwarna kecokelatan, sama seperti warna rambut Mom.
"Mom ada di dapur, kak. Katanya sih mau bikin cream soup." Dean kembali fokus pada televisi. Adegan Ben melawan monster aneh sepertinya sayang untuk dilewatkan.
Randia mengangguk kecil. Kemudian, ia merangkul adik tersayangnya.
It's too perfect. Mom yang gaul dan menyenangkan, Dad yang humoris dan berwibawa, juga Dean yang sangat disayanginya. Rasanya bodoh bila ia meninggalkan semua ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar