Selasa, 30 November 2010

My best friends

"here we go! Susu cokelat panas kesukaanmu."

Maro sedikit mengusik lamunan Randia. "thanks, Ro," Randia menyambut gelas yang diberikan oleh sahabat kecilnya itu.

"nggak malam, nggak pagi, nggak siang, nggak sore, kerjaanmu cuma ngelamun terus. Nggak bosen, apa?" Maro meneguk susu cokelat miliknya.

Gadis di hadapannya tersenyum kecil, "useless, ya? Tapi gimana ya... Otakku nggak bisa kompromi untuk nggak mikirin―" "cowok brengsek itu?" kalimat Randia terputus oleh tiga kata yang baru dilontarkan Maro.

"Ro... Apaan, sih! Aku―"

"aku nggak suka, Ran! Ngapain sih mikirin cowok kayak dia? Nggak guna!"

Randia terdiam. Kalau urusan argumentasi, sudah jelas siapa pemenangnya―Maro Rahadian.

Maro adalah sahabat kecilnya sejak di Arberdeen. Disana, Rumahnya hanya berbeda 5 rumah darinya. Tidak seperti Randia yang blasteran Skotlandia-Jawa,orang tua Maro Indonesia asli―ayahnya, Zaki Rahadian, adalah pengusaha kapal laut ternama di Eropa dan Asia. Sedangkan ibunya adalah seorang desainer kondang, Rainna Rahadian―

Maro pindah ke Indonesia lebih dulu dibanding Randia. Ketika umur 9 tahun, kalau tidak salah. Untungnya, rumah Maro juga di Jakarta, di Menteng. Jadi, mereka tetep bisa "main" bareng, seperti sekarang.

"aku lebih rela kamu gila karena mikirin Prince William yang sebentar lagi akan menikah dibanding.." Maro enggan melanjutkan kata-katanya. Muak.

Randia meneguk susu cokelatnya. "aku memang kelewat bodoh, Lo. Maaf."

Kening Maro mengerut, "kok minta maaf ke aku?"

"jadi, harusnya aku nggak usah minta maaf?" tanya Randia polos. Seketika itu pula, Maro tak dapat menahan tawanya.

"tadi kamu memarahiku. Sekarang malah menertawakanku!" gerutu Randia, kesal.

"aku nggak bisa menahan tawa, apalagi mengulum senyum, kalau melihat wajah polosmu. Like puppy." Maro mencubit pipi Randia.

Ya, tadi Randia tidak sengaja memikirkan... Dia. 'Huh. Untuk apalagi sih, Ran?' runtuknya dalam hati.

"biar nggak bete, ku traktir kamu Sushi Tei, ya? Lagi nggak diet, kan? Kebetulan aku lagi ngidam unagi roll nya," tawaran Maro cukup menarik Randia untuk menganggukkan kepalanya cepat.

***

"well, aku berani bertaruh kalau Jill memang nge date sama Defo! Kemarin aku lihat di Score Citos!" Jasmine membuka topik gossip pagi ini. Randia, Aza, dan Mega, adalah korban pertama yang mendengar gossip hot milik Jasmine―yang menurut polling majalah sekolahnya, Ditz, hampir 99% akurat―

"nggak nyangka ya, Jill yang selalu sok high class, tetep aja mau jalan bareng Difo yang notabene... Maaf ya, anak yang nggak 'wah' di Mearrow International School. Yang bukan bawa Mercedes Benz kayak Nino. Yeah, you know, sekalinya bitch, ya terus bakalan bitch." Mega melahap Tuna Sandwichnya.

"umm... Yeah. Ngomongin Jill nggak akan pernah abisnya, deh! Aku pernah liat dia ke party nya Karol minggu lalu dengan tube dress kuning. My Gawdness! Kamu tahu kan, she has a big boops! Nggak pantes banget, deh. Mau pamer boops segede kelapa itu? Bitchy bitch!" Aza menambahkan gossip hot pagi ini.

"aku satu ruangan sama dia di Art class. Beberapa kali aku pernah ngobrol sama dia dan... She isn't as bad as you think, gals" Randia menyeruput jus mangganya. "oh yeah, aku lupa. Dia selalu bermasalah dengan kalian bertiga, kecuali aku," tambahnya sebelum ketiga sahabatnya protes.

Ini adalah habbit mereka pada jam 7.30, 30 menit sebelum kelas dimulai. Mereka berempat bakalan kumpul di kantin, sarapan, dan... Gossip adalah main coursenya.

Jasmine, Aza, dan Mega adalah sahabat Randia disini, Mearrow. Jasmine, si biang gossip yang selalu dapat A+ di Biology Class, Aza yang jago Matematika, terkadang lugu dan cerewet, dan juga Mega, si "pengomentar pedas" dan kemampuan supernya di Geology Class. Mereka bertiga sekolah di Mearrow bukan karena harta semata, tetapi juga dengan kemampuan otak yang diatas rata-rata.

sedangkan Randia sendiri... gadis yang nggak punya kemampuan menonjol di bidang akademis. Tapi dia gudangnya segala kesibukan di bidang jurnalistik dan grafis.

Well, jangan kaget kalau kamu lihat berapa banyak pelangi yang Randia punya di hidupnya.

Senin, 29 November 2010

Prolog

''My shattered dreams
and broken heart
Are mending on the shelf
I saw you holding hands
Standing close to
someone else
Now I sit all alone
Wishing all my feelings
was gone
I gave my best to you
Nothing for me to do...''

One last cry milik Brian McKnight mengalun di kedua telinga Randia, melalui headset yang tengah tersambung dengan iPhone nya. Randia menatap ke luar jendela mobilnya. Hujan turun mengguyur Jakarta. AC mobil pun terasa semakin menusuk tulang.

Pak Jaja, supir keluarganya, terlihat sedang fokus menyetir. Di depannya mobil-mobil berjalan lambat. Oh yeah, Jakarta selalu macet bila hujan turun dengan deras.

Jakarta jauh berbeda dengan Arberdeen, sebuah kota di Skotlandia, tempat tinggalnya ketika Randia masih kecil. Arberdeen begitu teratur, tidak seperti Jakarta―kalau dihitung―yang sudah Randia tinggali selama 4 tahun ini.

Randia mengulas senyum tipis. 'i miss you, Arberdeen'

Lagu tiba-tiba terhenti. Sebuah panggilan masuk, ternyata, ''yes, Randia's here'' sahutnya.

"Mom baru aja keluar Pasific Place and now on the way to home. Hujan deras banget, Ya Tuhan. Are you okay, dahling? Pak Jaja udah jemput kan?" Mom, seperti biasa, dengan nada khawatirnya.

"i'm okay. Yes, ini udah di jalan kok. Masih di daerah Cilandak, sih. Maybe we need one hour to get home" Randia menyenderkan kepalanya di jendela. Masih betah melihat hujan yang tak hentinya turun.

"for God's sake! Jakarta nggak ada matinya! Haaah Mom stress nih nyetir sendiri. Please ya, Pasific Place ke Senayan tuh nggak jauh. Tapi ini macet banget, Ran! We must ask to Dad buat pindah ke Singapura secepatnya." Randia menahan tawa mendengar Mom yang ngoceh nggak karuan. Mom ada benarnya juga sih, Pasific Place ke rumahnya di Senayan kan nggak jauh.

"Mom, please. Dad sudah menepati janjinya padaku agar tinggal disini. Aku cuma mau tinggal di Indonesia," Randia bangkit dari senderannya, mengambil Cappucino di coffee plat mobilnya. Ia Sedikit kecewa karena Starbucksnya sudah dingin.

"iya, sayang. By the way... my daughter is so 'teen' now. Nggak nyangka, deh. Rasanya baru kemarin kamu merengek ke Mom minta dibeliin satu set lengkap Toy Story."

"come on, Mom. Aku udah 15 tahun dan bentar lagi sweet sixteen! Jangan anggap aku adalah Randia kecilmu yang suka banget pake toetoe ballet!"

"sudahlah, ngobrol sama kamu nggak akan ada habisnya. Mom nyetir dulu, ya. Bye-bye!"

Yeah. Sekarang Randia dihinggapi rasa itu lagi.

Bosan.

***

"i'm home! Anybody here?" Randia melepas sepatu converse nya. Lalu ia berjalan menuju ruang keluarga. Disana ada Dean yang sedang asyik nonton Ben 10 Alien Force.

"Hai, Kak! Tumben baru pulang." Dean memberi tempat untuk Randia duduk.

"traffic jam. Pathetic. Kejebak macet dimana-mana, Dean. Kamu sih enak, sekolahmu dekat. By the way, Mom udah pulang?" Randia mengelus rambut Dean yang berwarna kecokelatan, sama seperti warna rambut Mom.

"Mom ada di dapur, kak. Katanya sih mau bikin cream soup." Dean kembali fokus pada televisi. Adegan Ben melawan monster aneh sepertinya sayang untuk dilewatkan.

Randia mengangguk kecil. Kemudian, ia merangkul adik tersayangnya.

It's too perfect. Mom yang gaul dan menyenangkan, Dad yang humoris dan berwibawa, juga Dean yang sangat disayanginya. Rasanya bodoh bila ia meninggalkan semua ini.

Sabtu, 27 November 2010

say hello to you :D

hello, all!

First, gue mau ngenalin diri gue. Gue Sandiana, pemilik blog ini. Apollomuseroi.

Tujuan gue buat blog ini adalah... Gue mau menuangkan hobi menulis gue―yang udah ada sejak kelas 6 SD―disini. Dulu, gue mulai menulis lewat komputer. Mungkin, lebih tepatnya mengetik kali ya haha. Yaaa cerita drama 'anak kecil jatuh cinta' sederhana. Alurnya masih gampang ditebak, panjangnya cuma belasan halaman, dan yang paling utama...ceritanya kayak novel yang lagi gue baca saat itu. Hihi.

Inget banget gue, novel pertama yang ngebuat gue berpikir untuk ikut2 buat bikin cerita. Judulnya 'Nggak Usah Jaim, Deh!' kalo ga salah. Karyanya Valeria V, maaf gue lupa banget nama panjangnyaaaa:-(

Pertamanya buat 1 cerita, alurnya persis kayak novel yang gue sebutin tadi. Eh, lama2 ketagihan, deh.

Untuk sekian waktu, kegiatan nulis di komputer tehenti karena komputer rusak, kena virus. Dan ga kehabisan akal, gue pun menulis cerita di buku tulis. Cerita nya mulai berkembang, nggak ngikutin novel yg udah ada. Walaupun masih gampang ditebak endingnya-_-

Kelas 7. Gue mulai berhenti. Entah kenapa, gue lupa alasannya. Dan akhirnya gue lanjutin kelas 8.

Di kelas 8, gue punya beberapa pembaca. Teman2 gue, pastinya (thanks 4 u, all!).

Ohya, disamping nulis cerita, gue juga suka posting blog sejak kelas 7. Alamatnya sayasandey.blogspot.com silahkan cek kalo tertarik ;-)

Di kelas 9, tulisan gue mulai serius dan berisi. Nggak kayak waktu kls 7 atau 8 yg gaya nulisnya masih nyeleneh, lucu-lucuan, dsb. Fyi, akhirnya gue mulai tertarik nulis cerita via Ms. Word lagi. Dan di tahap ini, gue udah bisa nulis kurang lebih 100 halaman. Alhamdulillah.

Di grade 10 ini, tiba-tiba aja gue pengen punya blog yg isinya tentang novel, atau cerita pendek karangan gue. Biar bisa di komen dan dikasih saran.

I hope... It'll be work.

Enjoy it!